Minggu, 20 Desember 2015

Modus Perampasan Kendaraan dengan Berpura-Pura Jadi Debt Collector

Jika kendaraan bermotor Anda - entah mobil maupun motor - masih dalam proses cicilan, sebaiknya Anda pastikan pembayarannya lancar dan tidak terlambat. Sebab jika tidak, Anda akan jadi incaran Debt Collector. Tidak hanya itu, orang-orang yang "berpura-pura" jadi Debt Collector pun juga akan ikut-ikutan mengincar motor Anda.

Ya, seperti yang Anda ketahui, karena banyaknya nasabah perusahaan perkreditan kendaraan bermotor yang mangkir membayar cicilan kendaraannya, maka banyak perusahaan tersebut yang kemudian menyewa Debt Collector. Tugas Debt Collector adalah mencatat nomer polisi kendaraan bermotor yang mangkir atau terlambat membayar cicilan kendaraannya, kemudian mengamati waktu dan jalur yang biasa dilalui oleh kendaraan tersebut. Setelah semua informasi terkumpul, maka jika sang nasabah masih juga mangkir membayar cicilan, maka kendaraannya akan diambil paksa alias dirampas di jalan.

Biasanya, sang Debt Collector yang telah tahu rute dan jadwal lintas kendaraan yang diincar hanya tinggal menunggu di jalan saja. Ketika kendaraannya lewat, sang Debt Collector akan mencegat dan mengambil paksa kendaraan bermotor itu. Biasanya pemilik kendaraan tidak akan melawan karena menyadari kesalahannya. Ada juga yang melawan dan menolak kendaraannya diambil paksa, tetapi setelah digertak sang Debt Collector,  biasanya mereka keder juga dan akhirnya pasrah kendaraannya diambil.

Cara yang terbilang "barbar" ini memang sangat marak dan umum terjadi di kota besar di Indonesia. Karena sering terjadi, dan dianggap "wajar-wajar saja" oleh sebagian orang yang menunggak pembayaran, hal ini dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab untuk merampas kendaraan di jalan dengan alasan pemilik kendaraan menunggak pembayaran. Cara yang mereka lakukan sama persis dengan Debt Collector sebenarnya, yaitu mencegat kendaraan yang diduga telat membayar kredit kendaraannya, lalu merampas kendaraan tersebut.

Bagaimana pelaku kejahatan bisa tahu jika sebuah kendaraaan bermotor (umumnya sepeda motor) adalah kendaraan yang menunggak pembayaran?

Jawabannya : Mereka tidak pernah tahu.

Para pelaku kejahatan biasanya hanya mengidentifikasi calon korbannya berdasarkan penampilan kendaraan yang masih mulus, serta nomer polisi yang masih baru. Bermodal nekat mereka akan mengejar motor tersebut dan mengaku-aku sebagai Debt Collector, dan dengan alasan sang korban menunggak pembayaran, mereka dengan paksa merampas kendaraan sang korban. Dengan memasang "muka sadis", biasanya sang korban akan keder dan tidak akan berani melawan. Tapi kalau pun melawan, ada sebagian Pelaku Kejahatan yang tidak segan melukai korbannya.

Karena itu, bagi yang punya kendaraan bermotor (apalagi masih baru), pastikan Anda selalu membayar kredit kendaraan bermotor Anda tepat waktu. Kalau mau lebih mudah (agar Anda tidak lupa membayar), mintakan Leasing untuk mengatur pembayaran secara Autodebit saja. Jadi dipastikan pembayaran akan tepat waktu.

Jika Anda sudah membayar tepat waktu dan masih saja ada orang yang mencegat Anda di jalan, serta mengaku Debt Collector, segera tancap kendaraan Anda dan bawalah ke Kantor Polisi, atau mencari polisi di sekitar jalan Anda. Kalau pun tidak memungkinkan mencari polisi (karena Anda sudah dipepet oleh Pelaku Kejahatan), segera cabut kunci motor Anda. Meski sang Pelaku Kejahatan masih bisa membawa kendaraan Anda, paling tidak mereka akan mengalami kesulitan. Dan Anda bisa menggunakan kesempatan untuk mencari bantuan polisi atau masyarakat sekitar.

Semoga bermanfaat.

Jumat, 18 Desember 2015

Modus Pembiusan Lewat Penjualan Teh di Jalan

Jika satu waktu saat Anda sedang naik angkot, naik bis, atau sedang berjalan di mal, lalu ada orang mendekat dan menawarkan teh kemudian meminta Anda menghirup aroma teh yang dijualnya, jangan turuti... !!! Bisa jadi orang tersebut adalah kelompok pelaku kejahatan pembiusan yang sedang marak terjadi belakangan ini.

Ya, kejahatan dengan cara pembiusan saat ini sedang sangat marak terjadi di Ibukota. Tapi tidak menutup kemungkinan saat ini sudah merebak hingga ke kota-kota pinggiran, mengingat sudah banyak orang yang tahu dan waspada dengan aksi kejahatan jenis ini.

Cara yang dilakukan pelaku kejahatan adalah berpura-pura menjadi SPG dan menawarkan produk teh. Para pelaku kejahatan bukanlah orang-orang berwajah garang, tapi seringkali adalah SPG berparas cantik, sehingga Anda tidak akan sadar kalau sedang menjadi target kejahatan mereka. Biasanya SPG tersebut memperkenalkan produk mereka, lalu meminta Anda mencium aroma teh mereka. Dan ketika Anda menurutinya, niscaya Anda akan langsung hilang kesadaran. Hal ini bisa terjadi, karena mereka telah menambahkan kloroform (cairan pembius) ke dalam teh yang mereka "jual". Jadi ketika Anda dalam kondisi tidak sadar, mereka dengan mudahnya menguras habis semua harta yang Anda bawa.

Pelaku tidak hanya sang SPG saja, tetapi ada beberapa orang yang berpura-pura ikut mendengar penuturan SPG tersebut. Jadi ketika Anda sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri, akan ada orang yang berpura-pura membopong Anda, lalu seorang lagi menguras harta Anda. Cara ini akan terlihat sangat normal, sehingga tidak ada orang yang menyadari kalau saat itu sedang terjadi tindakan kejahatan.

Hingga hari ini sudah banyak orang yang menjadi korban kasus kejahatan seperti ini. Karena itu, tidak ada salahnya jika Anda waspada.

Ketika ada orang yang menawarkan produk teh atau produk minuman apapun, lalu meminta Anda menghirup aroma produk yang mereka jual, sebaiknya Anda perhatikan sekeliling. Jika ada orang-orang yang berdiri di belakang Anda dan terlihat mencurigakan, sebaiknya jangan ikuti kata-kata sang SPG.


Modus Pengemis Penggendong Bayi

Anda tentu sering melihat banyak pengemis di jalanan yang meminta-minta sambil menggendong bayi. Melihat kondisi sang pengemis (biasanya perempuan) yang harus "berjibaku" mencari nafkah untuk "anaknya", pasti akan muncul iba dari Anda. Maka tidak akan heran jika untuk pengemis demikian, Anda mau memberi mereka sedekah. Tidak hanya receh, tapi bahkan uang seratus ribuan sekalipun. Buat beli susu, pikir Anda.

Well... saya harus bilang, jika sampai Anda rela memberikan uang untuk pengemis itu, maka Anda telah tertipu. Mengapa?

Karena sebenarnya pengemis itu adalah salah satu dari sebuah kelompok terorganisir yang bertugas mengemis dan meminta-minta. Bayi yang mereka gendong, bukanlah anak mereka sendiri, tapi merupakan bayi sewaan, di mana orang tua bayi tersebut adalah pemabuk, pemadat, atau penjudi yang tidak terlalu perduli dengan nasib sang bayi. Mau mati kek, mau hidup kek, yang penting bayi itu dipakai layaknya "barang aset" yang bisa menghasilkan uang.

Jika Anda jeli, maka Anda akan lihat kalau sepanjang hari bayi tersebut tertidur lelap dalam pelukan sang pengemis. Ya, Bapak dan Ibu Sekalian : Sang Bayi tertidur SEHARIAN.... !!! Bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak-anak, tentu pemandangan ini sangat tidak lazim. Bagaimana mungkin seorang bayi yang masih kecil bisa sedemikian lelapnya tidur sepanjang hari?

Memang mustahil ada bayi yang bisa dengan tenangnya tidur dalam waktu yang sangat lama. Karena biasanya bayi selalu terbangun minimal 2 jam sekali untuk minum susu, karena kondisi fisiknya yang masih berkembang. Apalagi sang bayi tidur dalam kondisi yang sangat tidak nyaman, di mana dia dibawa berpindah-pindah oleh sang pengemis dalam kondisi panas terik (kadang hujan angin), berisik, dan berdebu. Jelas tidak mungkin !!!

Bagaimana sang pengemis bisa membuat sang bayi tidur sedemikian lelap?

Jawabnya : Karena sang bayi diberikan obat tidur seperti Parasetamol, morfin, dan miras (bahkan seringnya yang oplosan agar sang bayi teler dan tertidur lama). Bayangkan !!! Bayi yang masih lemah diberi obat-obatan dan minuman keras, sudah pasti organ dalam tubuhnya akan hancur. Tapi sang orang tua tidak terlalu perduli, dan mengizinkan anaknya diperlakukan seperti itu, mengingat uang yang didapatnya lumayan untuk dirinya berfoya-foya.

(Dari informasi yang saya gali di berbagai media, rata-rata biaya sewa seharian seorang bayi adalah Rp 100.000 - Rp 250.000 per hari, dari subuh hingga malam. Makin dekat Idul Fitri, makin tinggi pula biaya sewa sang bayi. Bisa Anda hitung, berapa keuntungan yang diperoleh orang tua sang bayi).

Dalam beberapa kasus, ada bayi yang diberi dosis obat berlebihan, sehingga sang bayi meninggal saat masih "disewa" oleh sang pengemis. Karena sudah kepalang basah disewa seharian, maka sang pengemis seringkali menggendong bayi yang telah menjadi mayat sambil meminta-minta. Anda tidak akan menyadari kalau yang digendong sang pengemis adalah mayat karena baru meninggal beberapa jam dan belum mengeluarkan aroma menyengat serta tubuhnya belum berubah warna. Seram dan sadis sekali, bukan?

Ketika Anda memberikan uang sedekah (karena alasan iba), tanpa sadar Anda mendukung para pengemis penggendong bayi untuk berkembang lebih banyak. Semakin banyak pengemis itu, semakin banyak pula bayi-bayi yang akan menjadi korban kebiadaban orang tuanya sendiri, serta para pengemis penyewa bayi tersebut.

Karena itu, saya menghimbau Rekan sekalian untuk tidak memberikan sumbangan atau sedekah apapun kepada pengemis seperti itu. Ingatlah... uang yang Anda berikan tidak akan membantu meringankan beban hidup mereka (karena sebenarnya banyak para pengemis yang jauh lebih kaya daripada kita...), tapi justru uang itu akan membuat semakin banyak bayi menjadi korban.


Senin, 07 Desember 2015

Modus "Kurang Etis" Oknum MLM dalam Berjualan

MLM (Multi Level Marketing) hingga hari ini masih cukup diminati dan menjadi salah satu "pekerjaan sampingan" yang hasilnya masih cukup menggiurkan. Wajar banyak orang yang tertarik untuk ikut MLM. Selain kerjanya "mudah", hasil yang didapat pun cukup besar. Dari setiap barang yang terjual, seorang Tenaga Pemasar MLM bisa meraup keuntungan antara 30 - 40%. Jika dia berhasil mendapatkan downline untuk menjual produk itu, maka penghasilanya pun bertambah lebih besar lagi.

Tidak heran jika banyak orang tergiur ikut MLM karena iming-iming kekayaan instan yang sangat menarik. Apalagi bisa dikerjakan tanpa ikatan waktu kerja, tentu saja banyak orang tertarik.

Saya tahu kekurangan dari bisnis MLM, tapi saya bukan ingin membahas bisnisnya, melainkan oknum dalam beberapa MLM yang seringkali menggunakan cara "kurang pantas" dalam menawarkan produk MLM serta merekrut downline.

Dari berita-berita yang ada, saya menemukan kalau banyak oknum MLM yang seringkali melemparkan berita dan kabar bohong tentang produk MLM yang dijualnya. Ada pun berita bohong yang mereka sebarkan misalnya produk yang mereka jual sudah terdaftar di BPOM atau SNI, perusahaan mereka sudah terdaftar dan mendapat izin usaha dari Dinas A atau B. Tapi nyatanya mereka sendiri tidak bisa menunjukkan bukti, sehingga keamanan produk mereka dan keabsahan perusahaan MLM tersebut jadi pertanyaan.

Gambar kiri : Foto Asli; Gambar kanan : Foto hasil rekayasa oknum MLM
Belum lagi beberapa oknum MLM sering memanipulasi gambar dan menampilkannya di sosmed, seolah-olah produk mereka telah dipakai oleh para artis atau seleb papan atas. Ada juga yang bahkan tanpa ragu menampilkan potongan gambar seolah-olah produk yang mereka jual pernah diulas di sebuah acara di televisi atau harian nasional tertentu. Faktanya semua hanya bohong belaka. Tindakan ini mereka lakukan hanya untuk menarik minat para calon Downline yang sedang mereka prospek agar tertarik dan mau menjadi anggota.

Hasil Rekayasa Oknum MLM yang meng-crop berita televisi
Cara mereka sebenarnya bukan sebuah kejahatan. Ini adalah salah satu metode marketing yang mungkin bisa dikatakan metode "terobosan baru", karena para marketing MLM berusaha menjual produk mereka dan mengejar target dengan teknik yang tidak umum, tidak lazim, serta tidak etis. Mereka pun berusaha menarik perhatian para calon Downline (atau istilah mereka "Prospek") agar tertarik dan mau bergabung dalam MLM tempat mereka bekerja.

Meski merupakan sebuah teknik marketing yang terbilang kreatif, tapi alangkah baiknya jika teknik ini tetap mengedepankan etika dan kejujuran. Jangan sampai memanipulasi gambar, apalagi membohongi Downline atau Konsumen dengan mengatakan produk yang ditawarkan adalah produk yang sangat laris, mudah dijual, dan sangat aman karena sudah terdaftar di BPOM atau SNI. Bisa-bisa kalau sampai menyebabkan kematian penggunanya, masalahnya jadi tindak pidana.

Kejujuran adalah modal penting dalam berbisnis atau melakukan usaha. Jika Anda tidak jujur, niscaya apapun usaha Anda, semuanya akan sia-sia. Dan ketidakjujuran Anda tidak saja melekat saat Anda bekerja di MLM tersebut, tapi juga akan terus terbawa sampai Anda bekerja kantoran atau punya usaha sendiri.

Modus Penipuan Bukti Transfer Palsu

Yang menarik dari jual-beli online adalah banyak barang yang dijual dengan harga yang cukup kompetitif. Selain itu, ada banyak barang yang tidak dijual secara umum, sehingga terkesan sangat ekslusif. Hal inilah yang mendorong toko online menjadi sangat marak dan ramai dikunjungi orang. Para pembeli yang tertarik, biasanya membeli produk tersebut dengan cara transfer uang via ATM atau e-banking.

Namun ternyata tidak semua pembeli jujur. Baru-baru ini disinyalir ada pembeli yang melakukan penipuan terhadap toko online, sehingga banyak toko yang akhirnya dirugikan. Caranya adalah dengan melakukan penipuan "pura-pura sudah bayar".

Cara yang dilakukan sang penipu cukup keren :
Sang pembeli biasanya menginformasikan kepada toko online kalau dia ingin membeli salah satu produk toko tersebut. Setelah mencapai kesepakatan harga, Sang Pembeli berjanji akan mentransfer pembayaran, kemudian memfoto bukti transfernya. Salahnya, Sang pemilik toko yang menerima bukti transfer itu, jarang melakukan pengecekan ke bank dan langsung mengirimkan barang yang dipesan. Setelah barang terkirim, dia biasa baru mengecek dan mengetahui kalau belum terima uang dari sang pembeli.

Lha, kok Sang Pembeli bisa belum membayar, padahal sudah ada bukti transfer uang?

Itu karena bukti transfer yang difoto adalah bukti transfer bohongan.

Ya, dengan teknologi masa kini (di mana ada program desain grafis seperti Photoshop, Coreldraw, dan lain-lain) orang bisa saja dengan mudah membuat struk ATM dengan sangat mudah. Cukup dengan mengopi contoh struk tersebut (yang bisa diambilnya di tong sampah ATM mana saja), lalu mendesain ulang, dalam hitungan menit, struk itu pun jadi. Apabila difoto dengan kamera ponsel, tidak akan terlihat perbedaan antara struk asli dan palsu hasil rekayasa.

Jika pemilik toko kurang waspada, maka mereka bisa saja percaya bukti transfer itu asli dan mengirimkan barangnya langsung, tanpa memeriksa di bank. Alhasil, mereka akan menderita kerugian.

Karena itu, saat melakukan transaksi finansial di toko online, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan :

1. Jika Anda "membuka toko" di gerai online terpercaya (seperti Tokopedia, Bukalapak, Olx, dan lain-lain), maka gunakanlah fasilitas pihak ketiga dari toko tersebut untuk memastikan transaksi aman. Anda bisa meminta pihak gerai menjadi orang ketiga, dan meminta sang pembeli membayar via toko tersebut. Setelah uang diterima dan gerai mengonfirmasi, maka barulah Anda mengirimkan barang yang dipesan, dan mengonformasi balik ke gerai.

2. Jika Anda menjual produk Anda lewat website pribadi, sebelum mengirimkan barang, selalu pastikan setiap transaksi benar-benar sudah terjadi dan Anda sudah menerima uang dari sang pembeli. Apabila belum, Anda bisa mengingatkan sang pembeli.




Minggu, 06 Desember 2015

Penipuan Managemen Artis

Menyandang status sebagai artis atau selebritis adalah impian banyak orang, terutama kaum muda dan remaja. Bagi mereka, artis menjadi salah satu jalan pintas untuk bisa hidup kaya, sukses, dan bergelimangan harta, tanpa perlu kerja keras. Bahkan mereka berani merogoh kocek cukup dalam hanya untuk bisa tenar dan populer, meski untuk waktu yang sangat singkat.

Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan para oknum penipu untuk meraup keuntungan dari para remaja dan kaum muda. Dengan berpura-pura menjadi Managemen Artis, mereka dengan mudah menjebak para remaja dan pemuda yang berhasrat untuk menjadi tenar dengan cara cepat. Alhasil banyak dari mereka yang akhirnya tertipu dan terpaksa gigit jari karena tidak pernah dapat menjadi tenar semerpti impian mereka.

Modus yang digunakan oleh oknum Managemen Artis ini adalah dengan memasang iklan yang menyebutkan kalau Management tersebut sedang mencari artis untuk membintangi sebuah sinetron atau iklan tertentu. Biasanya dalam waktu singkat, akan banyak orang yang mendaftar untuk memerani sintron dan iklan tersebut.

Setelah calon korbannya terkumpul, ada 2 cara yang biasanya dilakukan oleh sang Penipu :
Cara Pertama : Sang Korban akan diminta melakukan beberapa gaya atau berakting tertentu, seperti layaknya audisi biasa. Setelah audisi selesai, maka Sang Korban diberi tahu kalau dia terpilih memerani iklan tersebut. Tetapi guna mengurusi penginapan dan biaya lain-lain, Sang Korban wajib membayar sebesar nilai tertentu. Setelah Sang Korban membayar, maka dia akan dijanjikan jadwal shooting sinetron.

Cara Kedua : Tidak ada audisi apapun. Sang Penipu menyebutkan kalau iklan atau sinetron yang akan diperani Sang Korban tidak butuh audisi apapun, dan Sang Korban dipastikan bisa langsung main. Syaratnya adalah Sang Korban wajib membayar sejumlah uang tertentu sebagai biaya administrasi. Setelah uang dibayar, barulah diberitahu kapan waktu untuk shooting-nya dilakukan.

Setelah sang Korban membayar, maka Sang Penipu pun langsung kabur dan tidak akan dapat dihubungi lagi.

Penipuan ini sudah sangat umum terjadi, dan sudah tidak terhingga banyaknya korban yang terjerat penipuan jenis ini. Meski sudah melapor ke Polisi pun, tetap percuma, karena sang Penipu cukup lihai berkelit, sehingga sulit ditangkap.

Apabila Anda tertarik menjadi artis dan melihat ada iklan yang mengajak audisi, sebaiknya teliti lebih dahulu latar belakang perusahaan Management Artis yang menjadi Sponsor, Promotor, maupun Penyelenggara Acara. Bagaimana kredibilitas perusahaan tersebut? Di mana alamatnya? Siapa saja orang yang berada dalam Management Artis itu? Apakah punya catatan hitam di kepolisian? Di jaman sekarang, informasi tersebut sangat mudah didapat di Internet, sehingga Anda tidak perlu bingung untuk mendapatkan informasi-informasi tersebut.

Apabila setelah audisi, Sang Managemen meminta uang, sebaiknya tolak saja. Tidak ada aturannya setelah audisi Anda harus membayar. Sang Managemen baru bisa mengutip uang dari Anda setelah Anda benar-benar diterima dan bermain dalam sinetron atau iklan yang mereka janjikan. Nilainya pun baru dibicarakan setelah ada kontrak kerja sama di antara Anda dan pihak Management. Apabila tidak ada kontrak, tapi Anda sudah diminta bermain sinetron / iklan, Anda pun berhak menolaknya karena harus jelas dulu hak dan kewajiban Anda.

Ingat... jangan karena mimpi menjadi artis terkenal dan populer, maka Anda dibutakan oleh buaian para penipu yang mencoba mengambil keuntungan dari Anda. Karena itu... berhati-hatilah....