Rabu, 24 Mei 2017

Aplikasi ATM Ponsel - Benarkah atau Sebuah Penipuan Gaya Baru?

Belakangan ini saya mendapatkan banyak kiriman e-mail sebuah penawaran "produk" yang disebut dengan "ATM Ponsel". Produk ini merupakan sebuah aplikasi yang hanya tersedia di PlayStore (tidak tersebut di AppleStore). Katanya, cara kerja produk ini cukup mudah : Tinggal unduh programnya dengan ponsel Anda, lalu tunggu saja, dalam waktu 1 jam, uang akan luber dan banjir ke dalam rekening Anda. Dan dalam waktu sebulan, Anda akan mendapatkan uang senilai Ri 100 juta rupiah. Bersih. Wow.... !!!


Pengguna aplikasi ini tidak perlu membeli atau menjual produk apapun. Pengguna juga tidak diwajibkan untuk mempromosikan produk ini (meski toh pada akhirnya akan ada orang yang mempromosikannya karena dianggap sebagai produk "cerdas" yang bisa menjawab masalah finansial banyak orang saat ini.

Untuk bisa mengaktifkan program ini, Pengguna cukup mentransfer uang aktivasi sebesar Rp 750,000. Setelah itu, program pun aktif, dan Anda pun akan langsung menerima "banjir uang".

Sekilas, program ini cukup menjanjikan, terutama bagi Anda yang bermasalah dan sedang membutuhkan dukungan finansial. Tetapi program ini terbilang cukup "mencurigakan". Mengapa?

Pertama, tidak ada proses transaksional 2 arah yang berkesinambungan. Menurut pemilik akun dan aplikasi tersebut, Pengguna hanya cukup membayar sekali saja uang aktivasi untuk seumur hidup. Setelah itu, tinggal tunggu, dan uang pun mengalir deras ke rekening. Aneh kan?

Kedua, Pemilik Aplikasi - dalam akunnya - mengatakan kalau uang yang akan diterima oleh Pengguna adalah uang sah dan tidak melanggar Undang-Undang. Lha, Undang-Undang yang mana yang dia maksud? Tidak jelas. Selain itu, apa buktinya uang yang diterima adalah uang sah? Jangan-jangan uang hasil "pencucian uang" yang dapat menjadi masalah untuk kita di kemudian hari.

Ketiga, tidak ada alamat tempat tinggal atau kantor milik Pemilik Aplikasi. Jika uangnya tidak masuk rekening Anda, lalu Anda complain ke siapa? Ke Polisi? Trus polisi harus cari ke mana Sang Pelaku?

Banyak hal ganjil yang saya temukan di situs yang menawarkan aplikasi "ATM Ponsel" ini. Meski demikian, saya tidak menemukan adanya laporan atau berita kalau program ini adalah penipuan. Bisa jadi karena program ini terbilang baru (dari penelusuran saya, keberadaan program ini baru "tercium" oleh Mbak Google bulan Maret 2017), sehingga belum banyak orang tahu dan mencobanya.Karena belum ada bukti yang menyebutkan program ini merugikan orang, maka saya belum berani mengatakan kalau aplikasi "ATM Ponsel" adalah program penipuan.

Saya teringat beberapa tahun silam - mungkin sekitar 6 atau 8 tahun yang lalu - sempat beredar sebuah program di dunia maya yang (katanya) mampu membuat internet menjadi mesin uang. Tinggal unduh program itu, dan uang pun akan masuk ke rekening. Sistem kerjanya mirip dengan aplikasi "ATM Ponsel" : Pengguna tinggal mentransfer sejumlah uang. Nantinya dia akan menerima file yang dikirimkan oleh pemilik program via e-mail. Setelah file dimasukkan ke sistem komputer, dalam waktu singkat, uang di rekening bank akan terisi.

Nyatanya tidak demikian : Justru uang di rekening kitalah yang dikuras oleh sang Pemilik Program.

Dengan makin canggihnya teknologi, kita harus lebih waspada. Meski sedang dalam kesulitan finansial, tetapi janganlah dengan mudah tergoda oleh produk yang menawarkan "uang mudah", terutama lewat internet. Memang di dunia milenial sekarang, internet menjadi ladang untuk mendapatkan uang. Tetapi hal ini hanya berlaku untuk kegiatan transaksional, berupa jual-beli produk dan jasa. Apabila tidak ada proses tersebut, sangat tidak mungkin Anda bisa mendapatkan uang dari internet begitu saja.

Karena itu, tetap waspada dan hati-hati.....




Senin, 08 Mei 2017

Penipuan Lowongan Kerja

Salah satu praktik penipuan "kuno" yang hingga hari ini masih digunakan banyak Pelaku Kejahatan untuk menjebak korbannya adalah Penipuan dengan Membuat Lowongan Kerja Bodong.

Cara yang mereka lakukan cukup sederhana : Sang Pelaku Kejahatan akan membuat Iklan Lowongan Kerja yang (seolah-olah) menawarkan pekerjaan dengan gaji yang cukup fantastis. Agar kelihatan lebih bonafit, Pelaku Kejahatan biasanya menyewa sebuah Kantor di lokasi perkantoran yang cukup populer.

Tentu saja dengan tempat kerja yang mentereng dan lowongan pekerjaan "impian" tersebut, banyak orang yang tertarik untuk melamar. Setelah lamaran diterima oleh Pelaku Kejahatan, mulailah mereka melancarkan penipuan. Mula-mula mereka akan memanggil para Pengirim Lamaran untuk diwawancara. Wawancara akan dilakukan dengan cara yang sangat profesional (misalnya ada Tes Psikologi, Mengisi Identitas Diri, dan lain-lain). Sejauh ini, semuanya masih normal saja.

Nah, setelah melewati semua prosedur tersebut, mulailah penipuan sesungguhnya terjadi. Saat mewawancarai Pelamar, Sang Pelaku Kejahatan akan meminta sejumlah uang dengan alasan untuk biaya training atau biaya administrasi. Jumlahnya biasanya tidak besar (berkisar antara Rp 100,000 - Rp 250,000). Kadang tanpa pikir panjang, Sang Pelamar akan langsung membayar, dengan pertimbangan gaji yang diterima (berkisar antara Rp 10 juta - 25 juta) akan dapat menutupi biaya training tersebut.

Setelah menyerahkan uang, Pelamar akan disuruh menunggu 1 bulan sejak wawancara. Tentu saja setelah 1 bulan, tidak akan ada panggilan wawancara lanjutan atau konfirmasi pekerjaan. Dan ketika Pelamar mendatangi kantor tersebut, tempat itu sudah kosong. Pelaku Kejahatan sudah menghilang, dan melancarkana aksi penipuannya di tempat lain.

Teknik ini sebenarnya sudah dilakukan para pelaku sejak tahun 1990an, ketika banyak orang yang menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan pekerjaan dengan jabatan tinggi dan gaji besar, tanpa perlu pengalaman apalagi kerja dari level terendah.

Di masa dulu, ketika korupsi dengan leluasa merajalela, tentu praktik ini bisa saja dilakukan. Tapi di masa kini, sepertinya sudah sulit. Terlebih proses penerimaan karyawan benar-benar melewati tahap seleksi yang sangat ketat. Jadi sudah tidak mungkin lagi orang bisa dengan mudah "menyuap" untuk mendapatkan jabatan tinggi dan gaji besar yang dia maui.

Dan perlu diingat : Jika ada perusahaan yang memberikan gaji tinggi, berarti ada tanggung jawab tinggi pula yang dituntut oleh perusahaan tersebut. Jadi jika ada perusahaan yang menawarkan sebuah pekerjaan "sederhana" dengan gaji yang sangat tinggi, waspadalah !!!! Jangan-jangan itu tipuan.

Seandainya Anda membaca ada lowongan kerja yang menawarkan gaji tinggi, yang harus Anda lakukan adalah :
1. Cek kebenaran lowongan tersebut.

2. Telusuri latar belakang perusahaan yang menawarkan pekerjaan. Di masa kini, semua informasi dengan mudah didapat lewat internet. Jika perusahaannya bonafit dan terpercaya, maka informasi perusahaan itu pasti dengan mudah kita temui di internet. Tetapi jika tidak ada informasi apapun tentang perusahaan tersebut, hati-hati saja.

3. Sebelum melamar, cek juga kantor tempat perusahaan itu berlokasi. Pastikan, apakah perusahaan itu sudah lama menetap di lokasi itu atau baru beberapa hari.

4. Saat wawancara, jika Pewawancara meminta uang dengan berbagai alasan, segera tolak permintaannya, dan tarik kembali semua berkas lamaran Anda. Saat kita melamar kerja, tidak ada perusahaan yang akan meminta uang untuk alasan apapun. Jadi sudah pasti salah jika mereka meminta uang kepada kita. Dan jika mereka meminta uang, segera batalkan niat bekerja di tempat itu, dan tarik berkas Anda. Berkas lamaran itu harus diambil agar tidak dipergunakan untuk tindakan yang merugikan Anda.

Semoga bermanfaat.