Jumat, 18 Desember 2015

Modus Pengemis Penggendong Bayi

Anda tentu sering melihat banyak pengemis di jalanan yang meminta-minta sambil menggendong bayi. Melihat kondisi sang pengemis (biasanya perempuan) yang harus "berjibaku" mencari nafkah untuk "anaknya", pasti akan muncul iba dari Anda. Maka tidak akan heran jika untuk pengemis demikian, Anda mau memberi mereka sedekah. Tidak hanya receh, tapi bahkan uang seratus ribuan sekalipun. Buat beli susu, pikir Anda.

Well... saya harus bilang, jika sampai Anda rela memberikan uang untuk pengemis itu, maka Anda telah tertipu. Mengapa?

Karena sebenarnya pengemis itu adalah salah satu dari sebuah kelompok terorganisir yang bertugas mengemis dan meminta-minta. Bayi yang mereka gendong, bukanlah anak mereka sendiri, tapi merupakan bayi sewaan, di mana orang tua bayi tersebut adalah pemabuk, pemadat, atau penjudi yang tidak terlalu perduli dengan nasib sang bayi. Mau mati kek, mau hidup kek, yang penting bayi itu dipakai layaknya "barang aset" yang bisa menghasilkan uang.

Jika Anda jeli, maka Anda akan lihat kalau sepanjang hari bayi tersebut tertidur lelap dalam pelukan sang pengemis. Ya, Bapak dan Ibu Sekalian : Sang Bayi tertidur SEHARIAN.... !!! Bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak-anak, tentu pemandangan ini sangat tidak lazim. Bagaimana mungkin seorang bayi yang masih kecil bisa sedemikian lelapnya tidur sepanjang hari?

Memang mustahil ada bayi yang bisa dengan tenangnya tidur dalam waktu yang sangat lama. Karena biasanya bayi selalu terbangun minimal 2 jam sekali untuk minum susu, karena kondisi fisiknya yang masih berkembang. Apalagi sang bayi tidur dalam kondisi yang sangat tidak nyaman, di mana dia dibawa berpindah-pindah oleh sang pengemis dalam kondisi panas terik (kadang hujan angin), berisik, dan berdebu. Jelas tidak mungkin !!!

Bagaimana sang pengemis bisa membuat sang bayi tidur sedemikian lelap?

Jawabnya : Karena sang bayi diberikan obat tidur seperti Parasetamol, morfin, dan miras (bahkan seringnya yang oplosan agar sang bayi teler dan tertidur lama). Bayangkan !!! Bayi yang masih lemah diberi obat-obatan dan minuman keras, sudah pasti organ dalam tubuhnya akan hancur. Tapi sang orang tua tidak terlalu perduli, dan mengizinkan anaknya diperlakukan seperti itu, mengingat uang yang didapatnya lumayan untuk dirinya berfoya-foya.

(Dari informasi yang saya gali di berbagai media, rata-rata biaya sewa seharian seorang bayi adalah Rp 100.000 - Rp 250.000 per hari, dari subuh hingga malam. Makin dekat Idul Fitri, makin tinggi pula biaya sewa sang bayi. Bisa Anda hitung, berapa keuntungan yang diperoleh orang tua sang bayi).

Dalam beberapa kasus, ada bayi yang diberi dosis obat berlebihan, sehingga sang bayi meninggal saat masih "disewa" oleh sang pengemis. Karena sudah kepalang basah disewa seharian, maka sang pengemis seringkali menggendong bayi yang telah menjadi mayat sambil meminta-minta. Anda tidak akan menyadari kalau yang digendong sang pengemis adalah mayat karena baru meninggal beberapa jam dan belum mengeluarkan aroma menyengat serta tubuhnya belum berubah warna. Seram dan sadis sekali, bukan?

Ketika Anda memberikan uang sedekah (karena alasan iba), tanpa sadar Anda mendukung para pengemis penggendong bayi untuk berkembang lebih banyak. Semakin banyak pengemis itu, semakin banyak pula bayi-bayi yang akan menjadi korban kebiadaban orang tuanya sendiri, serta para pengemis penyewa bayi tersebut.

Karena itu, saya menghimbau Rekan sekalian untuk tidak memberikan sumbangan atau sedekah apapun kepada pengemis seperti itu. Ingatlah... uang yang Anda berikan tidak akan membantu meringankan beban hidup mereka (karena sebenarnya banyak para pengemis yang jauh lebih kaya daripada kita...), tapi justru uang itu akan membuat semakin banyak bayi menjadi korban.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar